rss

KEBERHASILAN THAILAND MENGENDALIKAN MALARIA (2)

Negara kita juga mempunyai peran dalam memeriksa malaria/ beberapa diantaranya punya laboratorium dan bukan hanya dalam memeriksa malaria juga penyakit lain atau bisa kita katakan Puskesmas kita pusat kegiatan terpadu seluruh penyakit, namun Puskesmas yang ada di Thailand memberlakukan khusus untuk kasus malaria yaitu apabila ada orang yang mempunyai gejala malaria datang ke Puskesmas maka mereka dianjurkan ke malaria post. Pos malaria ini letaknya tidak terlalu jauh dengan Puskesmas/ bersebelahan. Kegiatannya dan fasilitasnya sama dengan malaria klinik yaitu khusus untuk pemeriksaan malaria. Hanya masing-masing bertanggung jawab kepada instansi yang berbeda. Jika pos malaria bertanggung jawab terhadap Puskesmas, sedangkan malaria klinik berada di bawah unit pengendalian penyakit bersumber vector/ vector Borne Diaseas Unit (VBDU) di kabupaten. Apalagi itu VDBU?

Kantor Khusus Penyakit yang Ditularkan oleh Vektor
Ternyata selain Dinas Kesehatan Provinsi, di provinsi ada kantor khusus yang menangani penyakit yang ditularkan oleh vector khususnya dalam menangani pengendalian vector yaitu vector Borne Diaseas Center (VBDC). Bukan hanya malaria yang ditangani oleh VBDC juga penyakit lain yang ditularkan oleh vector seperti DBD, filariasis dan sebagainya. Sehingga ada suatu konsep pengendalian vector terpadu di dalamnya. Ini sisi yang menarik menurut saya. Satu kali mengayuh dua tiga pulau terlampui. Satu kali pengendalian yang dilakukan untuk dua penyakit sekali sekaligus. Organisasi seperti ini terus sampai dengan kabupaten. Jadi, selain Dinas Kesehatan Kabupaten juga punya kantor khusus yang menangani pengendalian vector/ vector Borne Diaseas Unit (VBDU). Di sini segala aktivitas pengendalian vector merupakan tanggung jawab yang harus mereka laukan. Selain itu, pencatatan dan pelaporan penyakit serta cross check sediaan darah malaria menjadi bagian dari aktivitas mereka, khususnya kasus dari malaria klinik. Setiap seminggu sekali, VBDU akan mengambil sediaan darah dari malaria klinik untuk di cross check. Selain pengendalian vector, pengamatan vector juga merupakan kegiatan rutin delam setiap bulannya. Pelaporan seluruh kegiatan diteruskan ke VBDC.

Penggunaan MRDT
Laboratorium malaria di Departemen Kesehatan Thailand sampai saat ini terus mengadakan uji coba/ riset terhadap Malaria Rapid Test Diagnosyic (MRDT). Disadari atau tidak, penggunaan mikroskopik malaria sering mengalami kendala dalam hal sarana atau prasarana, juga berhubungan dengan geografis maka sebagai solusi dari hal itu mereka menggunakan MRDT. MRDT di Thailand terutama digunakan untuk cross check terhadap kasus yang mempunyai gejala malaria namun hasil mikroskopik negatif. MRDT untuk di Provinsi kalimantan Tnegah lebih pas dipakai di daerah terpencil atau geografis.

Penerapan Pengobatan Baru Plus Follow up Pasien
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh badan kesehatan dunia/ WHO bahwa di wilayah Asia sudah banyak terjadi resistensi pengobatan malaria. Khususnya di Tahiland terjadi Imulti drug resistant malaria (klorokuin, sulfadixine dan mefloquine). Karena itu, dalam pengobatan malaria negara ini sudah memberlakukan pengobatan rekomendasi dari WHO yaitu ACT (Artemisinin-based Combination Therapy) yaitu Atesunate plus mefloquine (ATS-MFQ). Kesiapan logistik yang cukup bagus, saya berkunjung ke malaria klinik mereka telah mempergunakan obat ini dan mempunyai stok obat. Tak terkecuali di Thailand, Indonesia juga sudah dinyatakan resisten terhadap klorokuin baik Plasmodium falciparum maupun P. vivax. Sejak, Desember 2004 Depkes RI telah pula merubah pengobatan yang lama dengan yang baru. Namun, ketersediaan obat ini belum sepenuhnya ada di daerah. Sampai saat ini, hanya sekitar 5% Puskesmas yang ada di wilayah Kalimantan tengah yang memakai obat tersebut untuk pasien malaria yang telah dikonfirmasi dengan laboratorium. Pelatihan bagi para petugas medis dalam hal pengobatan baru tersebut juga minim sekali (5%). Tatalaksana yang sesuai standar juga diterapkan yaitu terhadap penderita yang sudah diberikan pengobatan diminta untuk datang kembali memeriksakan kemajuan pengobatan dengan pemeriksaan parasit melalui pengambilan sediaan darah.

Surveilans yang Kuat!
Apa yang sudah ceritakan di atas merupakan bagian dari system surveilans yang ada di negara ini. Mari kita tengok bersama! Merintis mulai tahun 1995, di Thailand mereka memiliki alur system surveilans yang praktis di pengendalian malaria, yaitu (1) penemuan kasus dan pengobatan secara aktif dan pasif. Secara aktif melalui kegiatan Mobile Malaria Clinics (MMC), ini sebuah mobil yang difungsikan sebagai klinik malaria untuk menjangkau daerah terpencil (Penulis : Rita Juliawaty).

No comments:

Post a Comment

Give Me Your Comment, No SPAM No JUNK:

Posting Terbaru

Arsip Blog

 

Pengikut Blog Ini