rss

Karakteristik BATITA, Masa Emas Pertumbuhan

MENGAPA buah hati saya pendek? Pertanyaan itu sering menghantui para orang tua yang melihat pertumbuhan tinggi badan anaknya yang kurang jika dibandingkan dengan sebayanya. Banyak orang yang menganggap itu biasa.
Menurut dr M Connie Untario SpA, tinggi atau pendek seorang anak dapat diantisipasi sejak dini. Dia melanjutkan, beberapa kelainan atau penyakit bisa mengganggu pertumbuhan. “Antara lain, abnormalitas kromosom, kelainan kelenjar endokrin (hormon), kelainan kartilago dan tulang, serta penyakit-penyakit kronis,” papar sspesialis anak di RS Mitra Keluarga Surabaya itu.
Connie menambahkan, secara garis besar anak-anak tumbuh melalui tiga fase. Pertama, fase usia bayi sampai usia tiga tahun (bawah tiga tahun = batita). Kemudian, usia anak-anak sebelum pubertas dan fase remaja., “Masing-masing fase pertumbuhan mempunyai pola karakteristik dengan mekanisme pengaturan internal yang berbeda,” jelasnya.

Misalkan, fase pertama ditandai dengan pertumbuhan yang cepat. Termasuk otak dan sistem persarafan. Pertumbuhan paling cepat terjadi pada tiga bulan pertama. “Itu membuat bayi baru lahir terlihat sangat cepat besar,” tuturnya.
Apabila sakit pada usia tersebut, jelas Connie, potensi tumbuh seorang anak akan berkurang. Kecepatan pertumbuhan makin melambat seiring bertambahnya umur. “Pada fase itu, beberapa hormon sangat berperan. Terutama tiroksin yang dihasilkan kelenjar gondok,” ungkapnya.
Connie menyebutkan, pertumbuhan anak akan ideal, bila kesehatan mereka bagus. Baik fisik maupun psikologis optimal.
Nutrisi yang diberikan juga harus seimbang, baik kuantitas maupun kualitas. Pencegahan terhadap penyakit pun sangat diperlukan. “Untuk mencegah anak terserang penyakit, bisa dengan cara hidup yang sehat dan imunisasi,” ucapnya.
Potensi genetik, kata Connie, memang mempunyai peran dalam pertumbuhan. Namun, potensi genetik suatu bangsa bisa berubah. Misalnya, Jepang. “Sejak 20-30 tahun setelah Perang Dunia II sampai sekarang potensi genetiknya berubah jauh,” cetusnya.
Menurut dia, gen pertumbuhan sangat kompleks dan belum seluruhnya dapat diidentifikasi. Bahkan, dari orang tua yang sama, dapat lahir anak-anak yang berbeda pertumbuhannya.
Jadi, tugas orang tua adalah mengejar pencapaian tinggi optimal. “Caranya, menciptakan lingkungan yang kondusif. Selain itu, diperlukan asupan yang mencukupi tumbuh kembang anak,” paparnya.
Connie menegaskan, penilaian pertumbuhan anak sangat penting. Setiap anak perlu diukur secara berkala. Hasil pengukuran tersebut kemudian dimasukkan dalam kurva pertumbuhan.
Bila ada keraguan terkait gangguan pertumbuhan, orang tua harus segera mendiskusikan hal tersebut dengan dokter.
“Dengan menggunakan kurva pertumbuhan secara berkala, angka-angka hasil pengukuran tinggi badan, berat badan, dan kalau perlu lingkar kepala dapat menunjukkan garis pertumbuhan. Selanjutnya, bisa dinilai apakah pertumbuhan anak normal atau tidak,” tegasnya.

No comments:

Post a Comment

Give Me Your Comment, No SPAM No JUNK:

Posting Terbaru

Arsip Blog

 

Pengikut Blog Ini