rss

Sulitnya Orang 'MISKIN'Kuliah

Penerimaan mahasiswa baru 2009/2010 mulai dibuka di seluruh perguruan tinggi dari Sabang dampai Merauke. Harapan dan keinginan anak-anak negeri untuk mendapatkan pendidikan tinggi pun sangat tinggi. Mereka berharap bisa meningkatkan pendidikannya, tidak hanya di sekolah semata. Bekal pendidikan yang semakin tinggi diharapkan bisa memberikan harapan baru guna memperbaiki masa depan diri dan lingkungannya. Namun, yang menjadi persoalan sekarang, mampukah anak-anak orang miskin mengeyam pendidikan tinggi?
Yang jelas, kebijakan pemerintah dengan melegalkan privatisasi pendidikan, baik yang berbentuk badan usaha milik negaran (BUMN) pada sejumlah perguruan tinggi negeri- sebut saja UI, UGM, IPB, ITB- maupun Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP) mengenai pelepasan tanggung jawab pemerintah dalam subsidi biaya pendidikan tinggi, cukup menyulitkan anak-anak orang miskin menikmati dunia pendidikan tinggi.

Sebab, imbas dari regulasi itu, perguruan tinggi mencari dana sendiri dengan cara meningkatkan harga pendidikan bagi siapa pun.
Dengan begitu, harapan agar anak-anak orang miskin bisa menikmati bangku pendidikan tinggi ibarat panggang jauh dari api.
Berdasar pantauan yang saya lakukan di sejumlah daerah di Jawa Timur (Jatim), sangat banyak anak orang miskin berhenti sekolah di tingkat menengah atas (SMA). Itu belum lagi berbicara sejumlah besar akan orang miskin yang terkadang hanya tamat di tingkat sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah dasar (SD).
Sementara dalam tingkat nasional, Departemen Pendidikan Nasional juga membeberkan temuannya pada 2008 bahwa angka putus sekolah tingkat SD tercatat 2,97%, SMP 2,42%, dan SMA 3,06%. Kenyataan tersebut masih diperparah tingginya jumlah warga negara yang buta huruf. Data yang ada menunjukkan, 15,4 juta penduduk berusia di atas 15 tahun menderita buta aksara. Itu sangat ironis.
Jadi, apabila kita kemudian mengharapkan anak-anak orang miskin menjadi pintar dan cerdas, itu ibarat menegakkan benang basah. Bila mereka kemudian bermimpi tinggi agar memiliki masa depan cerah di kemudian hari, hal tersebut akan gagal.
Jika akhirnya ngotot dan “terpaksa” masuk perguruan tinggi, orang tua mereka pun harus rela menjual dan atau menggadaikan harta keluarganya, seperti tanah, perhiasan, dan sejumlah harta benda berharga lainnya.
Akhirnya, yang miskin tetap menjadi terbelakang dan terpinggirkan. Mereka gagal mendapatkan ruang yang sama dengan yang kaya untuk meraih pendidikan tinggi.

No comments:

Post a Comment

Give Me Your Comment, No SPAM No JUNK:

Posting Terbaru

Arsip Blog

 

Pengikut Blog Ini